@SyifaDhani. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Blue Heaven, Cinta yang kembali pulang

Judul              :      Blue Heaven
Pengarang      :      Mahir Pradana
Penerbit         ;      Rak Buku
Jumlah hal      ;      202
Waktu terbit   :      Mei 2014

Sinopsis :
Ini kisah tentang 4 bersaudara keluarga Arizki dan perjuangan mereka sepeninggal ayahnya. Riyaz si sulung, memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya yang menjanjikan di sebuah surat kabar di Inggris, selepas S2 nya di negara yang sama, untuk kembali ke Indonesia, untuk bekerja di sebuah koran nasional. Dan tujuan utamanya tentu saja menjadi kepala keluarga, mendampingi mamanya, Rella Arizki.
Sementara anak kedua dan perempuan satu satunya, Raisa, adalah seorang dosen di sebuah universitas di kotanya, mengampu jurusan Arsitektur. Anak ke tiga, Rafi, adalah mahasiswa kedokteran yang sedang co ass di sebuah rumah sakit dan jadi anggota pasif sebuah gerakan bernama Perestroika, yang dambil dari hastag sebuah kicauannya di twitter. Sementara si bungsu Rayden atau yang biasa dipanggil Dede, cedal tapi berbakat di musik, pintar main piano dan jadi gitaris sebuah band bernama The Sidekicks.

Masing masng anak dari keluarga ini punya masalah, mulai dari Riyaz yang ditinggal menikah oleh orang yang dekat dengannya selama 8 tahun, Nadia, sampai niatnya untuk kembali ke Indonesia yang tidak disambut hangat oleh keluarganya. Beralasan memang, karena mereka berpikir Riyaz akan menuntut balas atas kematian ayahnya, yang secara tidak langsung diakibatkan oleh Gubernur Hermawan Handoko.Ayah Riyaz adalah teman satu partai sang gubernur yang kemudian menjadi anggota dewan dan mengikuti pemilihan kepala daerah. Sayangnya sang ayah kalah, lalu malahan dipecat dari partai politiknya oleh sang gubernur yang adalah juga ketua parpol ybs.Cobaan tidak berhenti di situ. Sang ayah dituduh korupsi, diajukan ke pengadilan, menjalani proses sidang yang melelahkan. Walau akhirnya tuduhan itu tak terbukti, sedikit banyak itu mempengaruhi kesehatan fisik dan mentalnya, yang berakhir dengan sakit berat dan kematian sesudahnya.

Sementara Raisa, perempuan satu satunya, harus meninggalkan kariernya yang cemerlang di Singapura, untuk kembali ke Indonesia saat sang ayah meninggal, dan memutuskan untuk menjadi dosen. Sebuah tempat di mana dia bertemu dengan pujaan hatinya, Indra yang ternyata adalah anak sang Gubernur.Sebuah hubungan yang hangat, tapi disembunyikan Raisa, khususnya dari sang kakak, karena pasti ini akan jadi kejutan yang tidak menyenangkan baginya, setelah semua yang terjadi dalam kehidupan mereka di masa lalu.

Rafi, si anak ketiga, sedang menempuh pendidikannya di sebuah universitas swasta dan sekarang sedang co-ass. Disela waktunya, dia aktif di medsos Twitter dan menjadi anggota gerakan bawah tanah yang bernama Perestroika, yang digagas dari hastagnya di twitter. Lama kelamaan, Rafi melihat ada banyak hal berlebihan terjadi di kelompok itu. Mulai dengan gagasan gagasan yang mlitan, menjadi provokator sampai menyimpan alat alat yang dikategorikan terlarang, seperti bom molotov, gas air mata sampai bom rakitan.

Si Rayden atau yang dipanggil Dede, adalah anak bungsu yang berbakat musik, tapi mengalami krisis kepercayaan diri karena kecedalannya. Walau dia pintar main piano dan jadi gitaris di sebuah band, tapi masih minder ketika berhadapan dengan perempuan, khususnya lagi jika perempuan itu berhasil memporakporandakan hatinya, seperti Santi Aira Desiana, seorang remaja berbakat dengan banyak kebisaan.

Lalu apakah yang terjadi ketika masalah keempat bersaudara ini berhimpitan bahkan bersinggungan?. Mulai dari Raisa yang memutuskan untuk menikah dengan anak sang Gubernur dan tentu saja ditolak mentah mentah oleh sang kakak? Rafi yang kemudian jadi tersangka karena suatu peristiwa yang melibatkan Santi, juga Dede?Bagaimana juga yang terjadi dengan hubungan Riyaz dan Nadia?Dan apakah pada akhirnya Dede bisa memperoleh hati Santi? Harus dibaca sampai tuntas untuk mendapat semua jawabannya tentu saja.

Sinopsis sudah, sekarang saya mau ngobrolin tentang plus minus novel ini, tentu saja dari kaca mata seorang pembaca dengan lumayan banyak jam terbang.
Novel ini mengulik tentang sebuah tema yang sebetulnya bukan hal baru yakni hubungan persaudaraan, tapi mengeksekusinya dengan cara yang berbeda. Membahas hal hal yang " in" seperti pemilihan kepala daerah langsung, dunia politik yang panas, juga tentang " dunia bawah tanah" prgerakan, penulis tentunya mengharapkan novel ini akan memuaskan kehausan pembaca akan bacaan sejenis yang tak banyak ditemui. Sayangnya, semuanya disajikan tanggung alias setengah setengah. Atau mungkin mau dijadikan pelengkap, tapi porsinya kebanyakan? entahlah.
Proses kedekatan antar anggota keluarga, disajikan apik di beberapa bagian novel ini, antara lain saat Riyaz, Raisa dan Rafi, berusaha mendukung adik mereka yang akan nembak gadis pujaan( halaman 140- 152), juga saat terjadi suatu peristiwa mendebarkan di akhir cerita.

Sekarang, saya akan mengulik beberapa hal yang sepertinya luput dari analisa, baik penulis maupun editornya, seperti :
1/ Adanya beberapa inkosistensi, yakni,
     - Di halaman 2 disebutkan bahwa Rianto Arizki adalah anggota DPRD, tapi di halaman 189 anggota DPR, mana yang benar?
     - Di halaman 17 disebutkan bahwa yang meledak adalah ruang kerja Rektor, tapi di halaman 76 disebutkan ruang kerja Pembantu Rektor.
     - Di halaman 36 disebutkan bahwa Riyaz sudah memeluk ibunya, tapi di halaman 37 diceritakan bahwa Riyaz baru sampai di rumah.
     - Di halaman yang sama disebutkan bahwa ..dipeluknya ibunya, lalu diciumnya kedua pipi ibunda..Tapi di kalimat setelahnya...dan itulah yang baru saja dilakukan Riyaz kepada ibunya sebelum memeluknya..Mana yang benar?
2/ Ada beberapa hal yang disebutkan kurang atau tidak tepat, contohnya :
     - Di halaman 142, disebutkan bahwa si walikota menghendaki banner setinggi tiang listrik dan selebar 4M dipasang. Sepertinya penyebutan yang benar untuk media itu bukan Banner tapi baliho.
     - Di halaman 149, diutarakan bahwa Rafi sedang browsing komputer. Lebih tepatnya seharusnya browsing internet atau browsing di komputernya.
     - Di halaman 157, Santi menggenggam bom yang ditaruh di dalam kotak sepatu, dan di bagian lain ditulis Santi menentengnya. Sepemahaman saya, sesuatu yang digenggam pasti berukuran lebih kecil dari ukuran telapak tangan. Akan lebih tepat kalau ditrulis memegangnya dengan kedua tangan.
     - Pada penunjuk waktu di bom, ditulis 04.49.51. Sepemahaman saya lagi, bukankah itu terbaca 4 jam, 49 menit dan 51 detik ya? Tapi sepertinya yang dimaksud penulis adalah 4 menit. Suatu waktu yang terlalu cepat, apalagi kalau dipakai buat ngobrol dan lari ke sana kemari( agak nggak logis lagi).
3/ Menurut saya, terlalu banyak diucapkan dan dirtulis kalimat kalimat berbahasa Inggris, bahkan untuk kata yang sudah populer bahasa Indonesianya seperti bandara untuk airport. Selain itu, untuk tokoh Rafi yang sepanjang cerita saya tak menemukan fakta bahwa dia pernah tinggal di luar negri dan tidak menempuh bidang studi Bhs Inggris, penggunaan bahasa Inggrisnya terkesan maksa.

Terlepas dari beberapa kritik saya untuk buku ini, ada kok pesan yang patut diapresiasi. Bahwa, tempat paling indah, paling menentramkan adalah keluarga, seperti yang ditulis pengarang di halaman belakang buku ini.
 ..Bagimu mungkin tempat ini tidak istimewa, namun coba renungkan sejenak.
Apakah kau ingat atapnya yang mengajarkan makna kenyamanan dan perlindungan.
Apakah kau ingat dindingnya yang serupa sebuah pelukan hangat saat kau bahagia atau bahkan saat lelah.
Apakah kau ingat lantainya yang selalu kokoh menopangmu saat yang lain berputar terlalu cepat.
Dan ini yang terpenting, apakah kau ingat pintunya? Pintu yang selalu terbuka lebar dan menyambutmu pulang, saat kau sudah lelah menantang dunia.
Tempat itu sebuah rumah, sebuah keluarga....


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

15 komentar:

Linda Satibi mengatakan...

Aku dah suuz zhan pas di awal baca betapa beragamnya masalah yg ada. Aku pikir, pasti nggak kebawa semua, tapi nanggung gitu deh. Pas baca ke bawah, ternyata ulasan Mbak Dhani pun mengatakan demikian.. :)

Syifa dhani mengatakan...

iya dik, ada banyak hal yang juga kelewat aku tulis. Peer buat penulisnya, juga sang editor.

atria sartika mengatakan...

Wah, ini nih pembaca yang serius memperhatikan bacaannya. Saya mah untuk detail seperti itu malah sering luput. Mantap.
Tapi dari review-nya buku ini rasanya agak "berat" ya??
He..he..

*saya mah pembaca yang ringan-ringan karena suka makanan ringan*

Syifa dhani mengatakan...

bukan buku berat kok dik, mungkin karena issuenya yang berat. Saya orangnya angot angotan. Ini saya tulis karena semangat sedang tinggi.

riawani elyta mengatakan...

Wah ini banyak masukan berharga nih buat penulis , editor dan penerbitnya :-)

Melani Ika Savitri mengatakan...

Risiko dari terlalu banyak tokoh dan konflik memang begitu, ya, Mbak. Nggak total mengeksplorasi masing-masing.

Melani Ika Savitri mengatakan...

Proses penyuntingannya juga butuh diperbaiki..

Masukannya bagus, Mbak Dhani..

Syifa dhani mengatakan...

dik Riawani, sebetulnya ada beberapa hal lagi yang belum ketulis. Jadi pembelajaran buat aku juga, logika cerita itu penting banget yaa.

Syifa dhani mengatakan...

dik Melanie, membuat novel dengan banyak tokoh dan masing masingnya mendapat jatah yang proporsional, saya langsung teringat satu nama, Ifa Avianty. Mungkin jam terbang juga berpengaruh yaa.

Eddelweiss - Naqiyyah Syam mengatakan...

catatannya banyak bingits, pasti detail nih dibaca.

Fardelyn Hacky mengatakan...

Aku baru dengar nama penulis ini, Mahit Pradana, wkwkwk *jedotin kepala ke tembok :D

Syifa dhani mengatakan...

dik Naqi, iya dik, lagi rajin nguliknya.

Syifa dhani mengatakan...

dik Fardelynn, bukan Mahit tapi Mahir. Karya novelnya sudah beberapa, ada Rhapsody, Here After juga..

Yunita Hentika Dani mengatakan...

Wah salut..kalo lagi mood..bacanya detail banget ya mbak Dhanik...
Aku juga sama dgn yg lain..suka abai dengan hal hal kecil..makanya klo ada typo aku tahu itu salaj tapi kuabaikan.
Kayaknya di awal bener bener anak yang sempurna, sukses semuaaaa di pendidikannya...
..
Aku suka kutipannya..
Sering lihat nama pnulisnya tp blm familier karyanya.
Makasih reviewnya yg komplit mbak Dhanik...
Sukaaa

Kitaro Collent mengatakan...

aku suka bacanya kak :D

skena musik indonesia

Posting Komentar