@SyifaDhani. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Resensi novel Menjeda karya Adya Pramudita

Menjeda...dan bukan Meragu

"Kita memang hanya memiliki satu hati, tapi kita bisa menyayangi beberapa orang dalam satu waktu.Tentu dengan tingkatan yang berbeda, dalam ruang- ruang redup hingga terang benderang. Hanya hati kita yang mengetahui siapa yang menempati ruang dan tingkatan yang mana. Dan seharusnya itu tidak tertukar"(halaman 1)
Untaian kalimat- kalimat manis ini, menjadi pembuka yang cantik dari novel setebal 265 halaman, yang merupakan debut dari pengarang bernama Adya Pramudita, berjudul Men() Jeda.Sebuah novel roman yang berlatar belakang 2 negara, Indonesia dan Italia.

Novel ini berkisah tentang Keira, seorang perempuan Indonesia yang memutuskan untuk kembali ke Indonesia, setelah menetap selama 10 tahun di Roma, punya karier gemilang sebagai fashion designer dan tinggal bersama Raja, separuh Eropa, yang menjadi juru selamatnya ...dulu sekali. Keira memutuskan kembali dengan banyak alasan, ingin merajut kembali hubungannya yang sempat terputus dengan keluarganya, ingin mencari kabar tentang "pria" masa lalunya, Giras dan yang utama untuk memberikan kesempatan pada dirinya sendiri dan Raja, mengevaluasi hubungan mereka.


Dulu sekali, Keira yang anak seorang sekretaris perusahaan asing yang bersuamikan pegawai kecamatan, dilarang bergaul dengan Giras, teman sekolah yang berbeda strata menurut ibunya. Keira lalu diasingkan dan tinggal bersama sepupu ibunya di Bogor. Tempat di mana dia mengenal Raja, teman sekolahnya, yang berhasil mengubah Keira yang pendiam dan murung menjadi Keira yang pintar menggambar dan terbuka. Raja pulalah yang dengan uang warisannya, membawa Keira ke Roma dan mendampinginya menghadapi kehidupan yang tidak mudah di negeri asing.

Lantas, setelah kembali, apakah semua rencana Keira berjalan mulus?.Sepertinya tidak. Keira yang meragu, menemui masalah demi masalah yang sebagian besar adalah akibat dari keraguannya. Dari mulai memilih Raja atau Giras, tinggal di Roma atau tetap di Indonesia dan banyak dilema lainnya.on

Menikmati novel ini secara keseluruhan,saya terpikat dengan Raja yang karakternya buaik banget. Menerima apa pun,kalau itu ujungnya adalah kebahagiaan Keira dan tokoh utama Keira dan Giras yang galau, selalu berubah- ubah dalam bersikap.Disajikan dalam gaya bertutur yang mengalir, dengan diksi yang cantik dan kalimat- kalimat narasi yang hidup.
Sayangnya, ada beberapa kesalahan yang agak mengganggu, seperti berikut ini;
1/ Penyebutan beberapa istilah asing yang kurang tepat, misalnya:
long jhon/seharusnya long john( halaman 3), Dolce Gabana/seharusnya Dolce Gabbana( halaman 4), jhon Lennon/seharusnya John Lennon(halaman 19), fashion desainer/seharusnya fashion designer atau fesyen desainer( halaman 62),my self/seharusnya myself(halaman 65), breefing/seharusnya briefing( halaman 166).
2/ Beberapa tanda baca ditulis dengan tidak tepat: seperti di( kata depan/awalan), atau di belakang koma.
3/ Sepengetahuan saya, makan siang lengkap tidak disajikan di tengah aktifitas arung jeram, melainkan di penghujungnya. Biasanya di tengah perjalanan, peserta disuguhi air kelapa muda dan penganan ringan( halaman 170-171)
4/ Digambarkan bahwa Keira tinggal berdua bersama Radja di apartemen, padahal mereka bukan suami istri. Lebih bijak jika digambarkan mereka tinggal dalam apartemen yang terpisah.

Tapi apa pun, sebagai debutan, karya ini patut mendapatkan apresiasi yang tinggi. Seiring jam terbang yang akan semakin bertambah, pasti karya- karya berikutnya lebih baik. Cara menulis yang asyik, diksi yang menawan juga kelincahan dalam dialog akan menjadi modal yang berharga ke depannya. Semoga...



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Ila mengatakan...

jadi penasaran sama novel ini :D

Leyla Hana Menulis mengatakan...

Editorialnya yang kurang beres ya berarti... :(

Posting Komentar