@SyifaDhani. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Her Beautiful Eyes, Karena kesempurnaan hanya milikNya

Judul                    :    Her Beautiful Eyes
Pengarang            :    Rien Dj.
Penerbit               :    Qanita/Miza
Tahun terbit          :    2013, Juli
Jumlah halaman    :    326


Walau pun dirimu tak bersayap
Kuakan percaya.
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
Walau pun mulutku pernah bersumpah
Tak sudi lagi jatuh cinta...
( Sang Dewi/ Titi Dj)

SINOPSIS

Ini kisah tentang Tiara, perempuan cantik, berkulit lembut, berambut indah hitam mengembang( halaman 8). Nampak sempurna bukan? Kalau ada yang boleh disebut" kekurangan", itu adalah kaki kirinya yang mengecil karena polio. Dan untuk aktifitasnya sehari hari, dia harus menggunakan satu kurk.Merasa kekurangannya tersebut akan menghambat pekerjaannya, Tiara memilih untuk bekerja sendiri dari rumah. Membuat craft, juga menjadi kontributor lepas sebuah web perkawinan.Mungkin itu juga caranya untuk menarik diri, menempati guanya sendiri.

Nuni, teman satu kosnya, lalu menyarankannya untuk bekerja di sebuah perusahaan yang boleh dibilang masih rintisan, bergerak di bidang handycraft,Milik teman kakaknya, Hikam namanya( halaman 14).Bosnya ternyata belum terlalu tua, berusia sekitar 30 an, yang punya mata setenang laguna dan senyum secerah matahari.Dari penjelasannya, Tiara menangkap bahwa yang akan dilakukannya adalah banyak berhubungan dengan aktifitas online, seperti mengelola web dan melayani pesanan, Suatu hal yang tak asing baginya. Yang kemudian jadi alasan untuk menerima tawaran pekerjaan tersebut.

Di saat yang bersamaan, Tiara dihubungi oleh Anta, sahabat lamanya di SMA dulu. Dengan Anta yang menggunakan kursi roda dalam berkegiatan, Tiara begitu cocok dan klop.Anta sedang berada di Solo, kota mereka dan mengundang Tiara untuk datang mengunjunginya.Dengan Anta, Tiara banyak berdiskusi tentang segudang rencana, mengentaskan kelompok disabilitas yang banyak terpinggirkan. Mulai dari fasilitas umum yang tidak mendukung, diskriminasi di bidang pekerjaan sampai tidak banyak kesempatan yang terbuka.

Bergaul dengan teman teman barunya di KDS( Komunitas Difabel Solo)menyadarkan  Tiara bahwa dia masih jauh lebih beruntung dibanding mereka. Ada yang tak hanya kehilangan satu kaki, tapi dua sekaligus, ada yang tunanetra juga. Disela waktu kerjanya di Sarwo Batik milik Hikam, Tiara menggunakan waktunya untuk membantu Anta, dengan memberikan pelatihan di bidang yang dikuasainya kepada teman temannya tersebut.Ada kalanya pembagian waktunya lancar, tapi ada kalanya juga, Tiara keteteran. Tapi semua dijalaninya dengan senang.

Sementara itu, Tiara merasa bahwa semakin lama, hubungannya dengan Hikam semakin cair. Juga sebuah peasaan suka mulai tumbuh di hati Tiara. Sebuah rasa yang selama ini berusaha ditepisnya, karena Tiara sadar, dengan kondisi fisiknya, dia bukanlah siapa siapa. Walau Nuni sahabatnya memberi keyakinan bahwa Tiara tak punya kekurangan, Tiara tak bergeming. Dia malahan berniat untuk tidak menikah.

Di saat lama kelamaan Tiara mulai membuka diri, sebuah kenyataan pahit datang. Hikam bertemu dengan seorang perempuan cantik yang pernah dekat dengannya, dalam sebuah kunjungan di Jakarta. Inne namanya, seorang perempuan cantik mirip Lola Amaria.Perasaannya terombang ambing lagi. Pada saat yang sama, Anta bermaksud kembali ke Australia. Meneruskan kuliahnya sekaligus menerima pekerjaan yang dicarikan kakaknya. Dan memberi Tiara tanggung jawab untuk menggantikan posisinya.Sesuatu yang selama ini dihindari Tiara karena dia hanya ingin membantu dari belakang.

Lalu apakah yang terjadi sesudahnya dengan hubungan Tiara dan Hikam, juga Anta? Apakah Hikam berhasil meyakinkan Tiara untuk mengakhiri kesendiriannya? Dan bagaimana sikap orang tua Hikam terhadap rencana ini? Apakah Anta akhirnya pergi?

Membaca buku ini secara keseluruhan, banyak informasi berhasil disampaikan penulis tentang dunia disabilitas. Bahwa ternyata, dunia belum berpihak pada mereka. Fasilitas fasilitas umum yang tidak diakomodasikan untuk kekurangan mereka, jenis jenis pekerjaan yang itu itu saja, sampai kesulitan yang dihadapi untuk mengorganisir mereka.Padahal secara kemampuan, tak ada yang membedakan dengan kita yang dianugrahi kesempurnaan fisik. Untuk bidang bidang tertentu bisa jadi mereka lebih unggul. Setting tempatnya juga dideskripsikan dengan lengkap oleh penulis. Sebagai pembacanya, saya jadi pingin mengunjungi Solo.

Kalau pun ada beberapa hal yang bisa dikritisi, salah satunya adalah pemilihan judul. Hemat saya, judul adalah representasi keseluruhan cerita dalam satu atau lebih kata. Dengan gaya penceritaan POV 1, " Her" jadi membingungkan. Juga judulnya secara keseluruhan. Dari seluruh novel, yang saya tangkap adalah perjuangan dan kebimbangan sekaligus. Jadi kok nggak berkorelasi dengan judulnya.
Hal lain adalah penulis kadang menjadikan satu bab dengan bab lainnya tidak terhubung, misalnya bab 12.Saya jadi seperti melihat satu bab yang berdiri sendiri.Konflik juga tidak digarap dengan maksimal, padahal banyak potensi konflik di sepanjang halamannya, mulai dari konflik antara Tiara-Hikam-Anta, atau konflik Tiara-Hikam-Inne. Bisa jadi juga konflik antara Tiara dan ibunda Hikam.Sayangnya saya melihat, penulisnya " adem adem" saja.

Bagaimana pun, dengan segala kesederhanaannya, novel ini punya banyak pesan yang bisa kita petik. Tentang menjadi diri sendiri, tentang lebih bersyukur atas semua nikmat yang Allah kasih, juga tentang bahwa " ketidak-sempurnaan " fisik bukanlah masalah dan bisa dijadikan alasan untuk tidak maju.Juga bahwa semua dari kita, punya andil untuk menjadi penyempurna hidup orang lain, dengan cinta, dengan bantuan, dengan saling berbagi.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

9 komentar:

riawani elyta mengatakan...

Iya mbak , ini novel romance yg simply sweet:-)

Fardelyn Hacky mengatakan...

Ini adalah novel dengan potongan kecil kisah hidup penulisnya, hihhiiiii...

Melani Ika Savitri mengatakan...

Anta itu cowok/cewek? Haha... bingung

Melani Ika Savitri mengatakan...

Tapi kayaknya novel ini memang sweet, meski judulnya agak wagu (matanya, mungkin dimaknai sudut pandangnyakah? Atau dunianya?) :)

Linda Satibi mengatakan...

ini novel pemenang lomba ya?

Yunita Hentika Dani mengatakan...

Novel romance tpi mengangkat kisah disabilitas sbg tema utama ya..
Aku kok langsung nempel karakter Hikam, lelaki dengan mata setenang laguna dan senyum secerah matahari..wow banget.

Menang lomba apa kak Linda?.. Kok baca reviewnya nggak disebutin..Dan benarkah ini terinspirasi kisah hidup pnulisnya?

Baca tentang ketakutan (rendah diri) penyandang disabilitas aku inget kisah seorang yang tidak punya tangan kwtika terus terang pada lelaki yang disukainya, si lelaki mundur dan wanita itu sakit hati sampai akhirnya dijelaskn bahwa si lelaki jug tidk punya tangan..jadi tidk bisa saling melengkapi..hiksss

Betapa berat ya perjuangan seorang penyandang disabilitas...
Makasih reviewnya mbak Dhani...


atria sartika mengatakan...

Nah, ini yang bikin membaca itu menyenangkan. Selalu ada hal baru dan menarik didapatkan.
Mungkin kelebihan novel ini memang adalah pengetahuan tentang disabilitas yang bisa ia berikan ke pembacanya.

Leyla Hana Menulis mengatakan...

Ini tergolong novel romance islami ya? temanya unik, ttg disabilitas. Makasih reviewnya, mbak :-)

Kitaro Collent mengatakan...

keren sekali kak..

suka bangget baca blognya :D

Go ahead event

Posting Komentar