@SyifaDhani. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Homeless Bird, tentang menjadi manusia yang bermartabat.

Judul buku           :  Homeless Bird
Pengarang            :  Gloria Whelan
Penerjemah          :  Ida Wajdi
Penerbit                :  Atria
Jumlah halaman     :  180

Bagi saya, buku ibarat jodoh. Itu pula yang saya rasakan tentang hubungan yang erat dengan buku buku yang bercerita tentang India, khususnya budaya dan perempuannya. Beberapa di antaranya bahkan saya beli bertahun tahun yang lalu, bahkan ketika ketertarikan itu belum ada. Ada juga yang saya peroleh dengan harga amat murah, dari seorang teman atau bisa juga karena salah sangka, seperti buku ini.Saya kira, seperti buku buku terbitan Atria lannya, ini adalah sebuah buku dongeng atau cerita klasik. Dan pengarangnya pun tak ada sedikit pun nama Indianya( mungkin ini nama samaran). Ternyata, taraaa..setelah membaca beberapa halaman, buku ini lagi lagi berkisah tentang India., perempuannya juga budaya matrinialnya.

Buku ini berkisah tentang Koly, gadis cilik berusia 13 tahun, anak dari sebuah keluarga kebanyakan. Ayahnya, seorang juru tulis, dalam artian sesungguhnya. Dari sebuah kios di pasar, dia membantu orang orang yang tak bisa menulis untuk menuliskan surat. Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga , berdiam di rumah, yang memenfaatkan sedikit waktunya yang tersisa untuk menyulam dan Koly menuruni bakatnya.Koly punya seorang kakak laki laki dan satu adik laki laki.

Di usianya yang masih belia, orang tuanya menjodohkannya dengan seorang pemuda. Dan untuk memperoleh mas kawinnya, keluarganya harus menjual mas kawin mereka dan satu satunya sapi yang mereka miliki..Tak ada yang Koly tahu tentang si pemuda kecuali bahwa namanya Hari, berusia 16 tahun( halaman 7). Keluarga Hari meminta pernikahan disegerakan dan diselenggarakan di tempat pengantin pria, suatu hal yang tak lazim tapi terpaksa diiyakan orang tuanya.Pada saat upacara, Koly baru tahu bahwa pengantin laki laki masih seusia dengannya dan sepertinya kurang sehat. Mereka menjauhkan Hari darinya, hal yang menimbulkan tanda tanya bagi Koly.

Lewat cerita Hari dan sebuah perbincangan antara ayah dan ibu mertuanya, Koly tahu bahwa Hari sakit keras dan mereka akan menggunakan uang mas kawin pemerian orang tua Koly untuk membawa Hari ke Varanasi, tempat di mana sungai Gangga yang disucikan berada. Keluarga itu berharap, Hari akan diberkati di sana..Akhirnya mereka , minus chandra adik Hari, membawa nya dalam sebuah perjalanan panjang ke Varanasi.Naik kereta yang penumpangnya berdesak desakan. Di sana, sengan bantuan seorang keluarga kenalan, Hari dibawa ke sebuah kuil untuk mendapatkan berkat. Tapi karena sakitnya memang sudah parah, Hari akhirnya meninggal dunia dan dikremasi lalu abu jenazahnya diserahkan ke sungai Gangga.

Beberapa minggu setelah kematian Hari, mertua perempuannyamenyuruh Koly memakai kain sari putih sebagai tanda kejandaannya.Mertuanya juga menguasai uang tunjangan janda yang diterimanya, memberinya pekerjaan tanpa henti, seakan akan Koly bukan menantunya tapi pembantunya.Di sela sela waktunya yang sempit, Koly membikin quilt juga belajar membaca diam diam dari ayah mertuanya yang seorang guru.Dari ayah mertuanya pula, Koly mengenal seorang penyair besar India, Rabindranath Tagore.

Sementara itu Chandra, adik almarhum suaminya yang juga sahabatnya, dijidohkan dengan seorang pria dan pindah mengikuti suaminya. Koly lalu tinggal bersama ayah dan ibu mertuanya. Masalah tidak berhenti di sini, ayah mertianya yang gagap dengan perubahan yang terjadi di tempat mengajarnya mulai tampak muram dan menyendiri dan akhirnya pergi selama lamanya

Tanpa si ayah mertua, keadaan menjadi semakin memprihatinkan. Barang barang yang ada di rumah mulai dijual dan Koly mendapatkan jatah makan yang kian sedikit.Suatu hari, Mertua perempuannya menjual rumah dan sapinya dan mengajak Koly untuk pindah ke Delhi dan tinggal bersama adik lelakinya.Ternyata itu adalah trik dari mertua. Di tengah tengah perjalanannya, di kota suci Vrindavan, mertuanya meninggalkannya pergi hanya dengan uang 50 rupee.Koly yang tak kenal siapa siapa lalu menggelandang dan tinggal di emperan sebuah rumah.Lantas apakah itu berarti masalah tak mau pergi dari kehidupan Koly? Tak adakah seorang pun yang peduli akan nasibnya?

Menyimak buku ini sampai tuntas, sekali lagi memberikan informasi yang sarat tentang" tidak beruntungnya" menjadi perempuan India. Dalam budaya matrinial yang mereka anut, perempuan dan keluarganya harus menyediakan mas kawin yang sebanding dengan calon suami yang akan diperolehnya. Dan setelah itu sang perempuan harus mengabdikan diri sepenuhnya pada suami dan keluarga mertuanya.Kalau pun suaminya meninggal, mereka menjadi janda, sosok yang tidak disukai. Dan lagi lagi seumur hidup harus mengabdi pada keluarga mertuanya.Mereka nyaris tak punya suara untuk menentukan hidup mereka..

Buku ini juga membawa pesan, bahwa selalu ada harapan bagi orang orang yang berusaha keras. Dan masih banyak orang orang baik yang manusiawi dan tak melihat status belaka.Sebagai perempuan Indonesia, betapa kita harus lebih banyak melangitkan syukur, bahwa kita punya lebih banyak pilihan dan hal hal baik untuk disyukuri..




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 komentar:

Fardelyn Hacky mengatakan...

ya ampun mbak dhani, sepertinya ceritanya nyesek banget ya .

Syifa dhani mengatakan...

kasiha dik, menikah dengan usia amat sangat muda, suaminya sakit parah, mertua perempuannya jahat dan dia tak punya bekal pendidikan apa pun..

Leyla Hana Menulis mengatakan...

selalu ngenes membaca kisah ttg tradisi pernikahan di india, perempuan posisinya rendah bgt :(

Linda Satibi mengatakan...

duh.. gitu ya.. harus tetap mengabdi ke keluarga mertua meski suaminya telah meninggal? brarti nggak bisa memulai hidup baru lagi dgn pria lain ya?

Melani Ika Savitri mengatakan...

Hiks.. sedih bener Mbak ceritanya. Tipikal kehidupan penduduk asli sana ya.

Btw, kalau suka nonton drama Korea, sebenarnya nggak jauh beda. Di Korea mas kawin juga mihil, mau nikah ribet, lihat kesamaan derajat banget dan menantu perempuan memang seakan tertekan di rumah mertua (terutama menantu pertama). Kalau mereka keluarga menengah ke bawah, menantu perempuan udah persis pembantu.

riawani elyta mengatakan...

huhuu...baca resensinya aja udah nyesekk banget ngebayangin nasib Koly, betapa timpang kontradiktif realita perempuan mereka dgn gemerlap film bollywood :(

Syifa dhani mengatakan...

dik Melani, beruntungnya kita jadi perempuan Indonesia ya. Punya banyak pilihan, punya banyak keleluasaan..

Syifa dhani mengatakan...

dik Riawani, beruntungnya akhirnya Koly bisa membaca. Dan itu jadi jalan untuk bertemu jodohnya nanti..

Syifa dhani mengatakan...

dik Leyla, iya lho. Perempuan perempuan India yang tinggal di Indonesia lebih beruntung. Mereka bahkan bisa bekerja, pintar dan mandiri. Ada seorang ekspatriat India yang kukenal, ketika brcerai, harus mengganti biaya maskawin yang dulunya diterimanya dari pihak perempuan.

Syifa dhani mengatakan...

dik Linda, biasanya begitu, bahkan kembali ke keluarganya pun nggak mungkin. Di cerita ini malah diinformasikan, ada suatu tempat untuk " membuang" para janda, yang bisa dikenali dari pakaian yang mereka pakai.

Posting Komentar