@SyifaDhani. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

TUSTEL,Memotret kehidupan siapa?

Judul Novel                   Tustel, Capturing Moments of Life
Pengarang                      Maria Surbakti
Penyunting                      Maria Surbakti
Penerbit                         Pohon Cahaya
Tahun Terbit                   Januari 2015


SINOPSIS
   Sulu Aruan, seorang pemuda berasal dari Tanah Batak, adalah dokter lulusan Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Di akhir masa kuliahnya dia bertemu dengan seorang perempuan bermarga Sitorus bernama Chrisinta atau biasa dipanggil Sin. Tapi sayang hubungan mereka tak direstui orang tua Sulu, karena marga mereka termasuk marga yang dilarang menikah.Akhirnya Sulu memutuskan untuk menempuh PTTnya di Maluku. Di sana salah satu pasiennya adalah Ratih. Seorang wanita yang masih memendam cinta pada Kasim kekasihnya, tapi dijodohkan dengan Abim yang pegawai negri.
   Di sana pula Sulu berjumpa dengan Hasan, temannya semasa co ass yang akhirnya mengajak Sulu pindah kerja ke Atambua, sebuah daerah di perbatasan Timor Leste dan Indonesia.Hasan juga bermasalah dengan perkawinannya.Berkat saran saran dari Sulu, hubungannya dengan istrinya membaik kembali.Sementara itu Sulu yang patah hati lalu pergi ke Wina untuk suatu penelitian. Juga mengajar para pengungsi.

REVIEW
   Bagi pembaca, novel adalah kesatuan antara kaver, ide yang diolah menjadi jalan cerita yang menarik juga ditulis menurut standar baku, yakni menurut EYD.Pertama tentang kaver, cukup menarik. Gambal tustel kuno dalam nuansa hitam putih. Masuk ke jalan cerita dan saya pun terkaget kaget. Ada banyak hal yang menyebabkan kekagetan saya. Beberapa di antaranya adalah,
1/ Editing yang buruk. Bagaimana tidak, nyaris di setiap halamannya ada kesalahan penulisan. Mulai dari tak bisanya penulis yang sekaligus jadi editor membedakan penggunaan " di" sebagai awalan( yang seharusnya disatukan dengan kata dasar) dan di sebagai kata depan( yang seharusnya dipisahkan dengan kata dasarnya).Kalau hanya satu atau dua kesalahan, saya maklum. Lantas kalau hampir di setiap halaman?
Selain itu banyak kata( dua kata) yang digabung jadi satu.Mengganggu sekali.Ada juga kesalahan penulis yang selalu menulis kata " kosong" menjadi " kotsong"
2/ Pernyataan- pernyataan yang tidak sinkron.
Ada beberapa contoh, misalnya:
      - di halaman 77 ditulis Sulu membawa Sin menemui kakaknya. Tapi di bagian lain masih di halaman yang sama ditulis" Kalau kau berani menikahi abangku, jangan harap kuanggap dirimu sebagai kakak.
      - di halaman 108 ditulis Sulu tidak mau datang memeriksa Ratih. Tapi di bagian lain di halaman yang sama ditulis " Kalau ada apa apa dengan Ratih, ibu bisa panggil saya"
      - di halamn 105 ditulis kekasih Ratih namanya Kasim, tapi di halaman 106 disebutkan sebagai Hasan.
      - di halaman 105 juga ada kalimat sama yang ditulis berulang.

3/ Keterangan yang salah.
Di halaman 159 disebutkan bahwa Makasar adalah nama pulau.
4/ Ada pemilihan kata yang menurut saya tidak tepat, misalnya :
      - di halaman 22, disebutkan suara kentongan(?) pedagang sate. Tapi suara itu timbul dari mangkok yang dipukul. Bukannya kentongan biasanya suara dari benda sejenis kayu yang dipukul ya?
       - di halaman 79 disebutkan " Wanita yang tepat di hadapannya mulai mendekati dan memayunginya dengan ramah(?)
       - di halaman 100 ada kalimat" Cukup menggelikan perjalanan kali ini menaiki kapal tanpa pelampung". Menurut saya, tanpa pelampung tidak menggelikan tapi menakutkan.
      - di halaman 121 ditulis" Nek kowe biasa toh atoh atoh ngene". Sepertinya maksud penulis" Nek kowe biasa to adoh adoh ngene"
5/ Ada banyak kalimat yang nggak saya pahami, seperti :
      - di halaman 83, ada kalimat" Mencintai dalam perhelatan budaya"
      - di halaman 87, ada kalimat" Nama gadis itu aku mengingatnya di setiap saat aku menarik napas gagah"
      - masih di halaman 87, ada kalimat" Aku mengaduh, air mataku jatuh.Air mata itu mengalir ke sungai- sungai kecil yang mentahtakan dirinya di depan rumah"
       - di halaman 114, ada kalimat"Perempuan itu tersenyum dan hanya menggeleng manja"
       - di halaman 160, ada kalimat" Namun nanarku pamit tanpa permisi ketika telingaku menangkap bunyi ketukan di pintu"
Dan masih banyak lagi kesalahan yang terasa mengganggu proses membaca.Secara keseluruhan sebenarnya novel ini menawarkan sesuatu yang unik, yakni tentang adat Karo, juga keindahan alamnya. Tapi realisasinya, adat Karo hanya seperti dibahas sambil lalu. Sedangkan porsi untuk mengetengahkan keindahan Tanah Karo porsinya pas. Juga tentang lukisan keindahan Wina yang cukup besar porsinya. Sayangnya sebagian di antaranya seperti mengutip data, jadi tidak berasa ruhnya.

Tentang gaya penceritaan saya juga bingung, POV apa yang dipakai. Penulis juga suka memakai kalimat- kalimat panjang yang ditulis berulang- ulang. Juga menggunakan gaya bahasa yang sulit dipahami. Sepertinya bermaksud puitis, tapi tak terlalu berhasil.Saran saya buat penulis adalah kalau menulis buku lagi, gunakanlah editor. Atau paling tidak proof reader, sehingga tidak terjadi banyak kesalahan tulis juga makna yang tidak menyamankan pembaca.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Kitaro Collent mengatakan...

bagus blognya kak :D

musisi indonesia

Posting Komentar