@SyifaDhani. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ai, Saat Cinta Tak Pernah Lelah Menanti.

Judul               :   Ai, Cinta Tak Pernah Lelah Menanti
Pengarang       :   Winna Efendi
Penerbit          :   Gagas Media
Jumlah hal       :   277
Genre             :   Roman.

Cinta seperti sesuatu yang mengendap- endap di belakangmu.Suatu saat, tiba tiba kau baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan.

Persahabatan antara dua atau lebih orang yang berbeda jenis kelamin, biasanya tak jarang berakhir dengan saling suka. Lalu apakah rasa suka itu akan dinyatakan, dipendam buat kenyamanan pihak lain atau malah dilupakan? Novel ini mencoba mengulasnya lewat tokoh Ai, Sei dan Shin. Bersetting sebuah desa kecil di pinggir laut di Jepang, kisah ini bermula.

Ai dan Sei lahir di tanggal dan bulan yang sama, hanya berselisih setahun, Ai lebih tua.Ai seorang wanita dan Sei sebaliknya. Sejak dari lahir pun mereka tinggal di rumah yang letaknya berdampingan.Sei dan keluarganya mengelola sebuah restoran sedangkan Ai yang tinggal bersama ayahnya yang ilmuwan Barat, menempati sebuah rumah di sebuah pemandian umum.Kedua orang ini, bersahabat sejak kecil, saling ada buat yang lain bahkan besekolah di kelas yang sama, sebangku pula.Sampai kemudian, datang seorang Shin di antara mereka.

Shin datang ke desa itu karena kedua orang tuanya meninggal dalam suatu kecelakaan. Suatu keadaan yang memaksanya untuk tinggal bersama kakek neneknya.Shin sendiri sebelumnya tinggal di Tokyo.Kehadiran Shin bukannya mengganggu persahabatan Ai dan Sei tapi malah menambah warna. Shin datang dengan hal hal baru seperti robot Aibo yang berbentuk anjing atau kamera digital tipis yang super canggih( halaman 24).Shin dan Sei bahkan bahu membahu menyenangkan dan menghibur hati Ai, apalagi di saat saat murungnya( waktu- waktu yang bertepatan dengan meninggalnya ibunya, beberapa tahun lalu). Dan puncaknya adalah 100 buah layang layang yang dibuat untuk menghiburnya( halaman 40-41). Suatu situasi manis yang sayangnya tidak bertahan lama.

Pada suatu Festival Musim Panas, Ai memilih Yukata yang disarankan Shin dan mengabaikan pilihan Sei.Dan saat itulah Sei tahu, Ai dan Shin sedang jatuh cinta( halaman 45).Shin bahkan sempat menanyakan perasaan Sei kepada Ai, tapi Sei menjawab bahwa dia menyanyangi Ai. Tapi di lubuk hatinya, Sei berucap" Aku merasa sedikit sesak, karena Ai memilih Shin kali ini, bukan aku yang sudah belasan tahun menjadi sahabatnya. Aku berusaha menghibur diri sendiri.Apa yang kutakutkan?Bukankah kami bertiga akan tetap seperti ini ( halaman 51)

Ketika Ujian Akhir hampir tiba, saatnya untuk memilih perguruan tinggi sudah tiba. Shin tentu saja ingin kembali ke Tokyo dan kuliah di Todai University. Sementara Sei, mengingat bahwa dia adalah penerus generasi untuk mengelola restoran keluarga, memutuskan untuk melanjutkan kuliah di daerah setempat saja. Tapi atas desakan Shin dan Ai, juga orang tuanya, Sei juga memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Tokyo. Mereka bahu membahu belajar keras dan mendorong Ai lebih keras. Bukan karena Ai kurang pintar tapi dia sering kehilangan fokus.

Akhirnya saat yang dinanti tiba. Mereka bertiga lulus dari sekolah lanjutan dan pergi ke Tokyo. Tinggal bersama di sebuah apartemen sederhana yang dicarikan oleh Shin yang tentu saja lebih familiar dengan kota ini.Mereka saling bantu mengatasi hari hari pertama tinggal dan mulai menyukai kota ini. Sambil kuliah, Sei dan Ai mengambil pekerjaan paruh waktu. Ai sebagai seorang penyiar radio sementara Sei bekerja di sebuah kedai ramen, bidang yang tak terlalu jauh dari usaha keluarganya. Di tempat itulah, dia berkenalan dengan seorang gadis yang mengingatkannya pada Ai, Natsu namanya.Mereka jadi dekat dan kelihatan bahwa Natsu menyukai Sei. Hal yang sama terjadi pada hubungan Ai dan Shin yang semakin intim. Mulai dari waktu yang lebih banyak dihabiskan berdua sampai Ai yang akhirnya tinggal di kamar Shin. Sebuah kedekatan yang puncaknya adalah lamaran Shin pada Ai di Tokyo Tower( halaman 119)

Berawal dari kabar bahagia itu, Natsu lalu mengajak Sei untuk mencari tempat tinggal baru dan tinggal bersama. Dan ketika hal itu dikabarkan kepada Ai dan Shin, Ai lah yang paling keras menentang rencana itu.Tapi dengan penjelasan panjang lebar juga dukungan Shin atas rencana itu, Ai akhirnya setuju. Lalu terjadilah suatu peristiwa yang mengacaukan semua rencana itu..

Shin meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dia ditabrak sebuah mobil yang berkecepatan tinggi. Dan kejadian itu jadi awal dari banyak kemuraman yang melingkupi mereka. Mulai dari Ai yang menarik diri dari keramaian, Sei yang membatalkan rencananya untuk tinggal bersama Natsu juga perselisihan yang terjadi antara Natsu dan Sei.Lalu apakah yang terjadi setelah itu?Apakah Ai bisa move on, bagaimana dengan perasaan Sei ke Ai dan Natsu?

Sebelum ini, saya sudah membaca 2 karya Winna, yakni Refrain dan Melbourne. Terpikat pada yang pertama tapi biasa biasa saja dengan yang kedua. Yang ketiga ini berhasil memikat hati saya lagi.Setting Jepangnya keren. Saya jadi tahu banyak hal hal baru, seperti misalnya istilah untuk prosentase mekarnya sakura, mulai dari sanbu zaki,gobu zaki dan shicibu zaki9 halaman 97). Karakter tokoh tokohnya juga kuat. Banyak bagian di cerita itu, ditulis dengan cara" to show'.Interaksi antara tokohnya juga hidup. Walau lebih banyak narasi, tapi tak tersisa rasa bosan membacanya.Nyaris tak ada thypo, tapi sepertinya ada beberapa hal yang mengganjal, seperti :
1/ Di halaman 19 diceritakan bahwa tak ada jaringan internet di desa itu. Tapi di halaman 26 diceritakan bahwa mereka belajar tentang internet di rumah kakek Shen. Bukankah mereka tinggal di desa yang sama?.
2/ Di halaman 28 dan 29 diceritakan bahwa mereka membuka sebuah situs seram. Saya kok merasa bagian itu hanya sebagai tempelan, karena tanpa bagian itu pun cerita ini akan baik baik saja.
3/ Di halaman 40 diceritakan bahwa Shen menerbangkan 100 layang layang. Tak diceritakan bahwa ada yang membantunya. Jadi membayangkan, masuk logika kah menerbangkan 100 layang layang seorang diri?
4/ Ada dua kali saya membaca istilah" senyuman tentatif". Senyuman seperti apakah itu?
Selain beberapa hal di atas, saya suka gaya menulis Winna di novel ini. Ditulis dengan gaya penceritaan 2 orang, masing masing setengah bagian, cerita menjadi menarik berdasar 2 sudut pandang yang berlainan. Tidak mengherankan juga, kalau novel ini ternyata disukai banyak pembaca di luar sana. Terbit pertama di tahun 2009, novel yang ada di tangan saya adalah cetakan yang kesembilan( tahun 2013). Keren bukan? Sekeren petikan yang saya sukai..

"Hei Sei, jika kau punya sebuah permohonan, apa yang akan kau minta?"
"Aku akan minta supaya kita bertiga bisa hidup bahagia selamanya"
"Ya, aku juga.."


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

9 komentar:

Melani Ika Savitri mengatakan...

Aihh, jatuh cinta sama quote pembukanya :D

kayaknya harus baca novelnya, karena saya jadi bingung dengan nama-nama tokoh yang pendek-pendek dan sulit diingat, apalagi setelah muncul tokoh-tokoh baru haha.. kekurangan saya emmang mengingat nama.

Syifa dhani mengatakan...

aku juga sama dik, suka riweuh dengan nama orang.Nama tokohnya Ai, Shin dan Sei.

riawani elyta mengatakan...

Ini novel pertama winna yg saya baca dan langsung jatuh cinta :-)

Syifa dhani mengatakan...

toss dulu dik. Kita lagi lagi jatuh cinta pada novel yang sama. Tapi yang Melbourne aku kok nggak suka yaa

Fardelyn Hacky mengatakan...

Awal membaca resensi ini, aku bingung mbak, mereka bertiga ini; Ai, Sei, dan Shin, yang mana laki-laki, yang mana perempuan, wkwkwk.... kupikr awalnya Ai itu laki-laki ada kalimat 'Ai setahun lebih tua', tapi akhirnya tercerahkan saat ketemu kalimat 'dia berkenalan dengan seorang gadis yang mengingatkannya pada Ai, Natsu namanya.'
Kalau tidak ada kalimat itu, kurasa aku akn bingung sampai akhir tulisan, wkwkwk.... bukan apa-apa, karena belum baca buku, hehehe...

Syifa dhani mengatakan...

sama, aku juga bingung pada awalnya, mana yang cowok mana yang cewek. Aku edit dulu ya biar jelas. Tq sudah mampir dik.

Leyla Hana Menulis mengatakan...

Udah baca juga novel ini karena promosi teman2 BAW, tapi penceritaannya lambat, jadi sempat berhenti baca untuk beberapa waktu. Novel Melbourne malah belum diterusin lagi bacanya. Kayaknya karya Winna bukan selera saya :-)

Syifa dhani mengatakan...

iya dik Leyla, penceritaannya memang termasuk lambat. Refrain bagus lho..

atria sartika mengatakan...

Baca ini saat pertama kali keluar dan langsung suka (>_<)
ah, jadi bernostalgia lagi.
Ini memang salah satu karya Winna Efendi yang sanga berkesan (^_^)
Nice review, Mbak

Posting Komentar